Tag Archives: islam

Suicide is strictly forbidden in Islam

I feel deeply sorry for all of the victims of terrorism attacks around the globe, including in Jakarta, Indonesia.

To make it clear, those acts is totally far from Islam Ideology.
Let us see from the poor bomber point of view who might be brainwashed by someone behind the scene. I feel sorry for him because most of them just think they are right, and only listen without criticism from the main actor.

Islam strictly forbids suicide for any reason.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”من قتل نفسه بشيء في الدنيا عذب به في الآخرة

Narrated from Thabit bin Ad Dahhak, the Prophet (peace be upon him) said: “Whoever killed himself in the world with anything, then Allah will punish him by that same thing on the Day of Judgment.”

It is also explained in the Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

O you who have believed, do not consume one another’s wealth unjustly but only [in lawful] business by mutual consent. And do not kill yourselves [or one another]. Indeed, Allah is to you ever Merciful. (Q.S. An-Nisaa: 29)

and in another verse:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Because of that, We decreed upon the Children of Israel that whoever kills a soul unless for a soul or for corruption [done] in the land – it is as if he had slain mankind entirely. And whoever saves one – it is as if he had saved mankind entirely. And our messengers had certainly come to them with clear proofs. Then indeed many of them, [even] after that, throughout the land, were transgressors. (Q.S. Al-Maaida: 32)

So, these kind of acts are totally different with slain in Allah’s way (shaheed). These are some examples which considered shaheed in Islam:

  1. Moslems who are killed defending his religion (They are not intending to kill themselves)
  2. Moslems who are killed defending his property/land in Allah’s way (They are not intending to kill themselves)
  3. Women who died after giving a birth
  4. Those who leave their homes in the cause of Allah, and are then slain or die (for example: a father who leave his home in order to support his family in Allah’s way, inshaaAllah)

Islam derived from the root word ‘Salam’ which also derives the word peace and safety.

Hopefully millions of moslems around the world who spread peace messages don’t covered up by irresponsible acts of fewer people who always highlighted by world’s media.

Advertisements
Tagged , ,

Adab “Marah” dalam Islam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Dalam hadits lain:

“Janganlah marah, maka bagimu adalah surga.” [H.R Thabrani].

Bukanlah kuat itu dengan mengalahkan musuh saat bergulat, akan tetapi kuat itu adalah orang yang bisa menguasai dirinya tatkala marah. [HR.Bukhari Muslim dan Imam Ahmad]

Di dalam Al-Qur’an:

“Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi dan terang-terangan dan orang yang menahan kemarahan serta memaafkan manusia, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.[QS.Ali Imran:2:134]

Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah mengungkapkan hendaknya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut adab atau cara mengendalikan marah menurut Islam:

  1. Jangan marah kecuali karena Allah SWT. Marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan pahala. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah, misalnya marah ketika menyaksikan perbuatan haram.
  2. Berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada mengingatkan, kemarahan kerap berujung pada pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan dapat pula memutuskan silaturahim.
  3. Mengingat keagungan dan kekuasaan Allah ketika marah. Ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun dan sabar.
  4. Menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya. Allah SWT berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran:134).
  5. Berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT) niscaya akan reda kemarahannya.” (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)
  6. Diam. Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.
  7. Mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).
  8. Berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf.
  9. Memberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS Asy-Syuura:37).

Itulah kesembilan cara yang bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan. Terlihat sulit tapi percayalah, jika kita berniat merubah diri kita untuk menjadi lebih baik, beberapa cara meredam kemarahan seperti yang disebutkan diatas patut dicoba. Insya Allah kita dapat termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai Allah SWT.

 

Source: Republika

Tagged ,

Surga Firdaus…

Sesungguhnya Allah SWT merasa heran kepada seseorang yang meminta, tetapi tidak meminta surga, dan kepada seseorang yang memberi tetapi bukan memberi karena mengharapkan pahala Allah, serta kepada seseorang yang meminta perlindungan tetapi bukan meminta perlindungan dari (azab) neraka.

(Riwayat  Al-Khathib melalui Ibnu Umar r.a)
 
Sesungguhnya di surga ada 100 tingkat yang disediakan oleh Allah bagi para mujahidin di jalan Allah, yang jarak antara satu tingkat ke tingkat lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kamu minta kepada Allah, mintalah surga Firdaus karena dia terletak di surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya adalah ‘Arsy Allah Yang Maha Pemurah dan dari situlah terpancarnya sungai-sungai di surga.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah)
Ciri-ciri penghuni surga Firdaus di dalam Al-Qur’an antara lain:
1. Khusyuk dalam mengerjakan Shalat
2. Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada gunanya
3. Membayar zakat tepat waktu
4. Menjaga kehormatan (menjauhi kemaksiatan)
5. Memelihara/ Melaksanakan Amanat
6. Menepati Janji
7. Orang yang memelihara shalatnya
Dalil dari ciri-ciri tersebut tercantum di dalam Q.S. Al Mu’minuun ayat 1-11:
Q. S Al Muminuun (1-3)
Q. S Al Muminuun (4-7)
Q. S Al Muminuun (8-11)
Semoga kita semua selalu berusaha menjadi penghuni surga-Nya dalam tiap dimensi waktu.. Amiin..:)
Tagged ,
%d bloggers like this: