Umar bin Al-Khaththab, Sang Penguat Umat (#1)

Tulisan ini awalnya terinspirasi dari perkataan yang saya dapat dari salah satu teman di asrama, “jika keberadaan kita dengan ketiadaan kita dalam suatu masyarakat tidak memberikan perbedaan sama sekali, boleh jadi ketiadaan adalah yang lebih utama.”

Hmm.. Saya langsung teringat sosok Umar sang penguat Umat yang ingin saya ceritakan di sini. Kita akan mengetahui bagaimana pengaruh Umar pada umat saat itu.

Di tengah udara yang pengap karena dipenuhi awan kesewenang-wenangan dan kezhaliman, muncul berkas cahaya, yaitu keislaman Umar bin Al-Khaththab. Dia masuk Islam pada bulan Dzulhijjah  pada tahun ke-6 nubuwah (kenabian), tepatnya tiga hari setelah keislaman Hamzah bin Abdul-Muththalib.

Sebelum itu, Nabi SAW telah berdoa kepada Allah untuk keislamannya, At-Tirmidzi mentakhrij dari Ibnu Umar, dan dia menshahihkannya, Ath-thabrani dari Ibnu Mas’ud dan Anas, bahwa Nabi SAW bersabda dalam doanya, “ Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin Al-Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu.

Umar dikenal sebagai orang yang menjaga kehormatan dirinya dan memiliki watak yang tempramental. Setiap kali dia berpapasan dengan orang-orang Muslim, pasti dia menimpakan berbagai macam siksaan. Yang pasti, di dalam hatinya sebenarnya bergolak berbagai perasaan yang saling bertentangan. Penghormatannya terhadap tradisi-tradisi leluhur, kebebasan menenggak minuman keras hingga mabuk dan bercanda ria, bercampur baur dengan ketakjubannya terhadap ketabahan dan kesabaran orang-orang Muslim dalam menghadapi cobaan dan mempertahankan akidahnya. Keadaan ini masih ditambah lagi dengan keragu-raguan yang menari-nari di dalam benaknya dan benak siapa pun yang berakal, bahwa apa yang diserukan Islam lebih bagus dan agung daripada yang lain. Umar benar-benar bingung hingga dia menjadi lemas sendiri. Begitulah yang dikatakan Muhammad Al-Ghazali.

Suatu malam, Umar keluar rumah hingga dia tiba di Baitul-Haram. Dia menyibak kain penutup Ka’bah, dan dilihatnya Nabi SAW sedang berdiri melaksanakan Shalat. Saat itu Beliau membaca surat Al-Haqqah. Umar menyimak bacaan Al-Qur’an itu dan dia merasa takjub terhadap susunan bahasanya. Kemudian dia berkata di dalam hati:

“Demi Allah tentunya ini adalah ucapan seorang penyair seperti yang biasa diucapkan orang-orang Quraisy.”

Seketika itu, Nabi SAW membaca:

Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kalian beriman kepadanya.” (Al-Haqqah: 40-41)

Setelah itu, Umar berkata lagi di dalam hati, “ Kalau begitu ucapan tukang tenung.”

Seketika itu Beliau SAW membaca:

Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam.

Beliau SAW meneruskan bacaannya hingga akhir surat, seperti yang diceritakan Umar sendiri, mulai saat itulah Islam mulai menyusup ke dalam hatinya.

Inilah awal mula benih-benih Islam merasuk ke dalam hati Umar bin Al-Khaththab. Tetapi, selubung jahiliyah dan fanatisme terhadap tradisi yang sudah mendarah daging serta pengagungan terhadap agama leluhur tetap tampil sebagai pemenang daripada inti hakikat yang merasuk ke dalam hatinya. Sehingga dia tetap bersikeras memusuhi Islam, tidak peduli terhadap perasaan yang bersembunyi di balik selubung itu.

Di antara gambaran wataknya yang tempramental dan permusuhannya yang sengit terhadap Rasulullah SAW, suatu hari dia keluar rumah sambil menghunus pedangnya, dengan maksud ingin menghabisi Beliau. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah An-Nahlam Al-Adwi, seorang laki-laki dari bani Zuhrah/ bani Makhzum.

“Hendak kemana engkau wahai Umar?”

“Aku akan menghabisi Muhammad,” jawabnya.

“Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?”

“Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini,” kata Umar.

“Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk.”

Dengan terburu-buru Umar berlalu hingga tiba di rumah adik perempuannya dan iparnya, yang saat itu ada pula Khabbab bin Al-Art, sedang membuka shahifah berisi surat Thaha. Dia membacakan surat ini di hadapan mereka berdua. Tatkala Khabbab mendengar suara kedatangan Umar, dia menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan shahifah Al-Qur’an. Namun, tatkala nmendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.

“Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?” tanya Umar tatkala sudah masuk rumah.

“Hanya sekadar obrolan di antara kami,” jawab keduanya.

“kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama,” kata Umar.

“Wahai Umar,” kata adik iparnya, “Apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?”

Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan menginjaknya keras-keras. Adiknya mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun, Umar menonjok Fathimah hingga wajahnya berdarah. Menurut riwayat Ibnu Ishaq, Umar memukul Fathimah hingga terluka.

“Wahai Umar,” kata Fathimah dengan berang, “jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Ilah selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Umar mulai merasa putus asa. Dia lihat darah yang meleleh dari wajah adiknya. Maka dia merasa menyesal dan malu atas perbuatannya.

“Berikan Al-Kitab yang tadi kalian baca!” kata Umar.

Adiknya menjawab “Engkau adalah orang yang najis. Al kitab ini tidak boleh disentuh kecuali orang-orang yang suci. Bangunlah dan mandilah jika mau!”

Maka Umar segera mandi, setelah itu memegangi Al-Kitab. Dia mulai membaca isinya, “Bismillahirrahmaanirrahiim.” Lalu dia berkata, “nama-nama bagus dan suci.” kemudian dia membaca, “Thaha,” hingga berhenti pada firman Allah:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

Alangkah indah dan mulianya kalam ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!”

Tatkala Khabbab mendengar perkataan Umar seperti itu, dia segera muncul dari belakang, lalu berkata, “terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar do’a Rasulullah SAW pada malam kamis itu jatuh pada dirimu. Rasulullah saat ini berada di suatu rumah di kaki bukit Shafa.”

to be continued…

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah dengan penulis Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, hal 104-107.

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: